Sekolah tempat yang paling asyik buat cari teman. Di sekolah juga kita bisa punya pengalaman baru. Banyak pengalaman gue dari yang paling berkesan sampai memalukan. Gue ceritain deh, tentang pengalaman-pengalaman gue itu..
Ceritanya gini.. Waktu itu anak-anak kelas 8.5 diberi kehormatan untuk menjadi petugas upacara (walaupun akhirnya bukan jadi kehormatan). Gue mencalonkan diri menjadi pasukan pengibar bendera. Kebetulan saat kita dikasih tugas yang mulia itu, bertepatan dengan hari kemerdekaan setiap pelajar alias hari libur. Jadi terpaksa kita harus latihan selama liburan. Emang dasar anak-anak SMPN 2 yang sok sibuk, selama liburan jadi cuma latihan satu kali. Nggak masalah sih, soalnya hari libur bukan saat yang tepat buat ke sekolah. Kita latihan dari jam 11 siang sampai jam 2 siang(kebayang kan, panasnya!). Dengan semangat kita mengulang kembali pelajaran SD tentang baris-berbaris. Horee.. jam 2 kita pulang.
Ternyata usaha yang separuh-separuh berbuah memalukan. Dari jam 06.30 kita udah ngumpul di lapangan upacara buat pakai atributnya. Petugas pembawa pancasila udah ke samping pembina upacara. Sekarang giliran petugas pengibar bendera yang beraksi. Kita jalan dengan serempak sampai ke tiang bendera. Sejauh itu berjalan lancar. Gue mengerek bendera dengan tangan gemetar. Setelah obade selesai menyanyikan lagu Indonesia Raya (yang kata Pak Parno kurang satu bait), bendera juga sudah sampai di puncak. Sekarang tahap mengikat tali pengerek bendera. Tiba-tiba gue lupa semua yang udah gue pelajari selama latihan ogah-ogahan itu. Di tambah teguran dari kepala sekolah yang semakin membuat badan gue panas dingin. Akhirnya setelah lama ngegulung-gulung tali yang berantakan itu, selesailah pula semua cobaan. Kita mundur dari tiang bendera dan kembali ke barisan petugas. Dan saat gue berkumpul dengan teman-teman, datanglah hadiah yang menarik buat gue. "Shal, benderanya turun lagi.."
Astaga.. pinter banget sih, gue! Pas gue nengok ke atas, jeng jeeeng.. bendera yang tadi asyik nongkrong di puncak turun lagi kurang lebih 20 cm. Betapa malunya diriku.
Nah, itu salah satu kisah yang sebenarnya nggak mau gue inget lagi. Kata para guru masih banyak kesalahan yang dilakukan kita (anak 8.5 yang disiplin). Tapi kayaknya nggak perlu gue tulis, karena toh gue juga salah satu si pembuat kesalahan itu. Jadi, berakhirlah kisah Shalfa Si Pengerek Bendera..
Sentiment Analysis
8 tahun yang lalu

0 komentar:
Posting Komentar